Bab I Pendahuluan

Bab I. Pendahuluan 

Pribadi Lengkap 

Tidak mudah menulis pemikiran seseorang yang telah wafat. Tidak mungkin misalnya melakukan wawancara. Apalagi yang bersangkutan tidak meninggalkan jejak berupa buku atau artikel di majalah dan koran. Yang tertinggal darinya hanyalah apa yang diceritakan orang lain tentangnya dan tidak bisa lagi dikonfirmasi. 

Tapi tidak demikian halnya dengan KH. Noer Alie. Kiai yang amat popular di kalangan masyarakat Bekasi dan Jawa Barat ini, meskipun tidak meninggalkan tulisan, tapi ajarannya masih melegenda. Beliau telah menghadap Yang Kuasa, tapi kenangan dan cerita tentangnya begitu hidup di kalangan murid, sahabat dan bahkan cucu-muridnya. Hal ini dikarenakan pengabdian beliau yang nyaris tidak terhenti sepanjang hidupnya, terutama bagi perbaikan dan pengembangan masyarakat. Mulai dari keterlibatannya dalam revolusi fisik melawan penjajah Belanda, menjadi Ketua Dewan Pemerintahan Kabupaten Bekasi, mendirikan lembaga pendidikan, dan mengajar keliling ke berbagai masjid. Tidak heran jika almarhum dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh pemerintah atas jasa-jasanya dalam rangka ikut berjuang melawan penjajah Belanda dan mempertahankan Republik Indonesia. 

Sayangnya tulisan tentang riwayat hidup dan perjuangan beliau masih sedikit. Diantaranya buku yang ditulis oleh Ali Anwar dengan judul "KH. Noer Ali: Kemandirian Ulama Pejuang" atau kumpulan tulisan dalam blognya http://noeralie.wordpress.com. Selebihnya masih berbentuk legenda dan cerita dari mulut ke mulut. Karena itu tulisan mengenai berbagai aspek lain tentang beliau mutlak diperlukan. 

Tulisan ini mencoba menggali pemikiran KH. Noer Alie dalam hal pembangunan dan pengembangan ekonomi Islam, sebuah subyek yang kini dipelajari secara serius oleh dunia akademis di Indonesia khususnya. Bidang ini mulai mendapat perhatian ketika terjadi krisis ekonomi yang melanda Indonesia dan masih terasa dampaknya sampai sekarang. Sejak saat itu orang mulai mempertanyakan sistem ekonomi yang dianut oleh Indonesia. Sistem yang dibangun selama 30 tahun oleh Soeharto bersama Orde Barunya hancur dalam sekejap meninggalkan masalah keuangan, ekonomi bahkan kemanusiaan. Bencana itu masih terasa dampaknya bagi masyarakat, sampai sekarang. 

Ide Ekonomi 

Mengaitkan KH. Noer Ali dengan masalah ekonomi ibarat mencari bayang-bayang dalam cahaya temaram. Dia ada disana, tapi diperlukan kejelian menemukannya. Pasti ada yang terselip diantara kebijakannya dalam memimpin Yayasan Attaqwa selama 30 tahun. Atau dalam ceramah-ceramahnya yang tersebar di berbagai kaset rekaman milik murid-muridnya.. 

Masa kecil KH Noer Alie tidak mengenal dunia ekonomi. Dia hidup bahagia dengan masa kanak-kanaknya. Mengaji, bermain di pinggir sawah atau di tepi sungai di lingkungan kampung, yang meskipun masih di masa penjajahan Belanda tidak tersentuh gaya "amtenar dan noni-noni" bule itu. Setelah dianggap cukup belajar dengan guru yang ada di Ujungharapan dia dikirim ke Kampung Cipinang Muara, tempat seorang kiai kharismatik bermukim, KH. Marzuqi. Tidak tercatat bahwa Noer Alie santri melakukan transaksi ekonomi seperti berjualan atau berdagang selama nyantri di Cipinang Muara. Tidak seperti Sayadi anak Klender atau lainnya yang biasa berdagang sore setelah ngaji di pagi hari.

Ketika bermukim di Mekkah, Noer Alie lebih sering bersentuhan dengan issue politik tanah air ketimbang masalah ekonomi. Meskipun masalah ekonomi juga banyak mendera anak-anak santri Mekkah yang berasal dari negeri muslim yang merupakan tanah jajahan. Masalah ekonomi praktis mulai dihadapi Noer Alie santri ketika pulang dari Mekkah. Masalah yang dihadapi pertama kali adalah bagaimana membebaskan tanah di antara dua kampung guna didirikan masjid penengah (masjid jami sekarang) di atasnya agar tidak lagi dilakukan Jumat bergantian. Atau berusaha mengolah tanah yayasan agar memperoleh hasil dan memberikannya sebagai honor untuk guru-guru Yayasan.

Kemungkinan terbesar ide-ide ekonomi KH Noer Alie diperoleh ketika dia aktif di Masyumi, partai politik ummat Islam yang lahir pada tahun 1943. Pergaulannya dengan para intelektual di kalangan Masyumi menghasilkan ide-ide moderen tentang pembangunan dan pengembangan masyarakat melalui kelembagaan. Beliau mendirikan yayasan dengan nama Yayasan Pembangunan, Pemeliharaan dan Pertolongan Islam (YP3) pada tahun 1951 dengan notaris Eliza Pondaag di Jakarta.  


Comments

Popular posts from this blog

Bab V Governance

Bab IV Ekonomi Syariah